Kringgg!! Kringggg!!! Bunyi telepon genggam memecah
suasana sepi. Waktu menunjukkan pukul 19.00. Suasana perpustakaan sudah tak
seramai siang hari. Jam kerjaku berakhir pukul 20.00. Hari ini benar-benar
melelahkan. Perpustakaan semakin ramai
saja oleh para remaja. Yah, perpustakaan ini walaupun tidak luas, namun memuat
buku-buku yang sangat lengkap. Jadi wajar saja jika ada begitu banyak
pengunjungnya. Selain itu perpustakaan ini juga berada di lokasi yang
strategis. Lokasinya yang di tengah kota
dan dikelilingi taman yang luas dan indah membuat perpustakaan ini begitu
diminati. Kebanyakan yang berkunjung adalah remaja, baik itu dari kalangan hawa
maupun kalangan adam. Orang-orang mengenal perpustakaan ini dengan nama Happy Book Store. Di perpustakaan ini aku bekerja paruh waktu sebagai pelayan yang
melayani permintaan peminat. Aku seorang siswi SMA The Gold Thalent. Namaku Bassama
Aedon Fayyola. Keseharianku banyak ku habiskan dengan bekerja paruh waktu. Ada
banyak alasanku bekerja, tapi bukan alasan banyak orang. Bukan alasan
keterbatasan ekonomi. Satu alasan yang paling utama aku bekerja yaitu
kebosanan. Yah, aku bosan jika hanya berdiam diri di rumah setelah aktivitas
sekolah.
Jam kerjaku pun akhirnya telah usai.
Malam ini suasana jalan begitu tenang tidak ada bunyi klakson yang memekakan
telinga. Jalanan dikelilingi pohon-pohon rindang yang tampak tersenyum
menyapaku. Walaupun demikian mungkin bagi kebanyakan orang akan terasa tenang
dan damai. Tapi bagiku, itu belum bisa
kukatakan tenang. Karena aku masih bisa mendengar jeritan-jeritan orang-orang
disekelilingku. Fikiran-fikiran orang-orang yang kulalui dijalanan sangat
menggangguku. Dan kucoba untuk mengabaikannya dengan mendengarkan beberapa lagu
di mp3. Karena kesibukkanku dengan mp3 membuatku tidak menyadari ada seseorang
yang memanggilku.
“Aedon…” Sebuah suara yang kurang
jelas mengarah ke telingaku. Sejenak aku berfikir, apa yang disebutkan itu
adalah aku? Tapi tidak ada yang memanggilku Aedon, orang lebih mengenalku dengan
panggilan Fay. Ah, mungkin itu nama orang lain.
“Aedon. Tentu saja kau Aedon.
Bassama Aedon Fayyola, putriku Aedon.” Suara itu kembali terdengar. Kali ini
suara itu terdengar sangat jelas. Benar, suara itu menyebutkan namaku. Tapi,
darimana asal suara itu? Fikirku.
“Hahaha. Darimana? Tentu saja suara
itu berasal dariku putriku. Ayahmu yang memanggilmu.” Kali ini suara itu
membuatku takut. Bagaimana tidak? Yang ku ketahui ayahku sudah tiada. Dan
bagaimana mungkin ia masih bisa berkomunikasi denganku. Ku coba lihat sekelilingku, mencari-cari asal
suara. Tak berapa lama kemudian suara itu kembali terdengar.
“Kau takkan bisa melihat
keberadaanku putriku. Jarak kita terlalu jauh, tapi kau tetap bisa mendengarku.
Kerena pikiran kita terhubung satu sama lain.” suaranya terdengar sangat ramah.
“Lalu, siapakah anda? Apa yang anda
maksud dengan Ayahku?” aku berkata didalam pikiranku.
“Aku adalah ayahmu. Aku tahu semua
tentangmu. Hanya saja kau mungkin tidak tahu apa-apa tentangku.” Orang tersebut
menjawab. Awalnya aku curiga. Ku kira itu hanya halusinasiku. Tapi setelah
mendengar ia dapat menjawab apa yang ada dipikiranku, akupun mengerti itu bukan
halusinasiku. Sejenak kutarik nafasku. Aku tidak gila! Sekali lagi aku mencoba
untuk meluruskan pikiranku. Yah, mungkin jika aku memberitahu hal ini pada mama
aku pasti di suruh meminum kembali obatku. Itu juga alasan mengapa aku memilih
untuk bekerja dibanding berdiam diri di rumah. Jika aku di rumah mama pasti
akan menyuguhkanku dengan obat-obatan yang sangat tidak kusukai. Kali ini aku
membuktikan bahwa bukan hanya aku saja yang di bilang aneh tapi masih ada orang
lain yang lebih aneh dariku. Orang itu tak lain suara yang baru saja kudengar.
Tapi aku masih begitu penasaran, sebenarnya suara siapakah itu? Apa benar
ayahku?
“Ehmm, baik Aedon, ayah tidak bisa
berlama-lama lagi berbicara denganmu. Masih banyak yang harus ayah lakukan.
Jangan khawatir, cepat lambat kita akan berjumpa dan ayah juga sudah mengirim
seseorang untuk menjagamu.” Katanya padaku. Masih banyak yang harus dilakukan?
Apa maksudnya? Mengirim seseorang? Untuk menjagaku? Setelah itu, suara itu
lenyap seketika. Tapi, beberapa saat kemudian aku dikejutkan dengan kedatangan
seseorang yang entah darimana dan sejak kapan dia tepat ada di belakangku. Seorang
pria tampan, dengan kulitnya yang putih bersih, matanya yang bulat, hidungnya
yang begitu menawan, memakai pakaian yang sangat berbeda dan belum pernah ku
lihat sebelumnya. Dengan senyuman yang mengembang ia membungkukkan badan dan
menyapaku.
“Selamat malam tuan putri.” Sapanya
dengan senyuman yang merekah dari wajah tampannya. Aku tidak tau apa yang harus
kulakukan. Dia benar-benar tampan. Tapi, apa maksudnya dengan ‘Tuan Putri’? apa
baru saja aku mendengar seseorang memanggilku Tuan Putri? Siapa dia?
“Ehhh. Iya, selamat malam.” Hanya
kalimat itu yang sanggupku lontarkan. Pikirku, apakah dia malaikat? Kenapa
wajahnya begitu cerah dan tampan? Pakaiannya pun sangat berbeda dengan era
sekarang. Sangat… rapi.
“Maaf tuan putri, sebelumnya izinkan
saya memperkenalkan diri. Nama saya Alvaro Gavriel. Saya diutus raja untuk
menjaga tuan putri.” Ia memperkenalkan dirinya. Alvaro Gavriel? Nama yang
keren. Eh, apa? Menjaga?
“Ehhhh. Maaf apa maksudmu menjaga?
Raja? Hey raja yang mana? Raja Charles kah? Tolong jelaskan semuanya secara
detail padaku!” perintahku dengan bergaya layaknya memerintah pelayan seperti
dalam drama. Kemudian dia bangkit dari posisi membungkuk.
“Bukankah tuan putri sudah mendengar
yang dikatakan raja?” bukan menjawabku, tapi sebaliknya ia bertanya. Dikatakan
raja? Hmmm, apa mungkin yang ia maksudkan adalah suara yang mengaku sebagai
ayahku? Entahlah.
“Oh. Jadi itu benar-benar nyata yah.
Aku kira itu benar-benar hanya halusinasiku saja. Bodoh sekali aku ini.” Kata
ku memasang raut wajah datar.
“Tidak. Tuan putri tidak bodoh. Tuan
putri hanya mewarisi apa yang memang seharusnya tuan putri warisi. Itu bukanlah
penyakit seperti yang manusia kira. Itu adalah kelebihan tuan putri. “ ia
mencoba menjelaskan padaku.
“Katakan pa yang kau inginkan
dariku.” Aku mencoba untuk mengetahui sebenarnya apa tujuannya.
“Tuan putri masih salah paham. Saya
disini diutus oleh raja untuk menjaga tuan putri, selain itu tidak ada tujuan
lain.” aku hanya menghela nafas. Aku rasa ia tidak berbohong.
“Benarkah? Baik, hantarkan aku pada
raja yang mengutusmu.” Mungkin ini jalan untukku mengetahui kebenaran tentang
ayahku. Dari raut wajahnya, ia tidak bisa memenuhi permintaanku.
“Tentu saja itu kebenaran. Mohon
maaf tuan putri, terlalu berbahaya jika tuan putri ingin menemui raja saat
ini.” Ekspresinya tampak khawatir dan cemas. Membuat curiga saja.
“Kenapa? Apa bahaya yang harus
kuhadapi? Aku tidak takut pada apapun. Lagipula kenapa seorang penggelana harus
takut.” Berharap ia merubah keputusannya, tapi malah sebaliknya.
“Saya juga tahu hal itu. Tapi ini
bukan sesuatu yang bisa tuan putrid hadapi.” Balasnya. Ah, membuat kesal saja.
Aku hendak membalas apa yang dikatakannya, tapi tiba-tiba aku merasakan sesuatu
mendekat.
“Apa ini? Apa mereka lagi. Tidak
salah lagi, energy ini adalah mereka.” Tebakku. Aku tidak terlalu terkejut
dengan yang kurasakan, yang mendekat bukan musuh. Tapi lain halnya dengan orang
aneh didekatku. Raut wajahnya begitu cemas.
“Apa ini? Darah campuran? Apa memang
benar adanya darah campuran?” seolah-olah bertanya padaku.
“Hahahaha. Ternyata kau juga
sepertiku yah. Kau juga merasakan energy mereka. Tenanglah mereka bukan musuh.
Mereka penggelana sepertiku.”
“Tuan putri, bagaimana tuan putrid
tahu kalau mereka bukan musuh. Di planet ini ada begitu banyak musuh yang
energinya sama.” ia bertanya seakan-akan tak percaya.
“Bagaimana aku bisa tahu? Tentu saja
aku tahu mana energy musuh dan mana energy temanku. Dan mereka adalah
teman-temanku. Aku tahu seperti apa energy mereka, karena aku selalu bersama
mereka.” Jelasku.
Tentu saja aku mengetahui semuanya.
Yah mereka adalah teman-temanku. Lalu aku memberikan sinyal keberadaanku.
Kurasa mereka sedang gelisah dan mencariku.
(melompat) “Ternyata kau disini
rupanya.” Clara mendarat dengan sempurna.
“Fay kemana saja kau. Kenapa begitu
sulit untuk menemukanmu. Membuat repot saja.” Gary menyusul.
“Kalian saja yang bodoh. Tadi
sebelum aku pergi sudah kuberi tahu kalau aku pergi ke jalur II. Aku
menyelesaikan pekerjaanku di tempat biasa. Lagipula kenapa kalian mencariku
semua? Siapa yang menjaga markas?” mereka datang mencariku semua. Dan itu hal
yang aneh menurutku. Biasanya yang akan mencariku hanya Richard saja.
Richard Vello, pemimpin golongan
kami. Golongan penggelana. Markas yang kukatakan tak lain adalah tempat tinggal
golongan penggelana. Itu letaknya jauh dari jangkauan manusia. Lebih tepatnya
itu berada di bawah tanah. Kami tinggal disana. Dengan jumlah yang cukup
banyak, kami bisa hidup sebagai satu rumpunan keluarga. Richard menyebut kami
sebagai Level Penggelana atau golongan orang-orang penggelana.
Akhir-akhir ini markas serasa tidak
aman lagi, makanya aku menyuruh mereka untuk menjaga markas saja dan tidak
berkeliaran. Sebenarnya kami terbentuk masih sangat baru. Sekitar 5 bulan yang
lalu aku bertemu Richard. Waktu itu dia datang ke rumahku menemui mama. Awalnya
aku sangat membencinya. Aku mengira dia itu kekasih mama. Aku juga membenci
mama yang melupakan ayah, walaupun dia memang sudah meninggal. Tapi walaupun begitu, bagiku Richard sudah seperti seorang
Ayah. Ia satu-satunya orang yang menjaga kami. Entah asalnya darimana aku juga
kurang mengetahuinya. Mama pernah bilang kalau Richard adalah pamanku.
Sayangnya aku tidak percaya, karena waktu itu aku masih membencinya. Baru
ketika ia melihat keanehan yang kumiliki dan memahami keanehan itu, aku mulai
menghilangkan kebencianku padanya. Ia menunjukkan padaku bahwa ia juga sama
sepertiku, sama anehnya.
“Sudahlah. Sekarang cepat kembali.
Richard sangat murka mendengarmu masih saja bekerja di tempat itu.” Clara
memotong lamunanku.
Clara Indica Musticka, gadis cantik dengan kulit
putih seputih seorang Albino. Orang kedua yang direkrut dalam kelompok
setelahku. Aku dan Richard menemukannya ketika sedang pergi ke toko roti
seberang jalan rumah. Ia kedapatan sedang mencuri roti. Waktu itu ia dengan
cepat dapat menghilang dari kejaran penjaga toko. Lebih tepatnya kusebut dengan
ber-Teleport. Richard menyadari keanehan itu dan mencari kebaradaan si
Teleport. Kami menemukannya di sudut bangunan yang dikelilingi sampah yang
berserakan. Terlihat sedang memakan roti yang baru saja berhasil ia curi. Richard
dan Aku menghampirinya. Dia bangkit dari tempat duduknya. Matanya tampak aneh.
Matanya memiliki warna biru pekat. Aku hanya bisa memandang saja ke arahnya.
Saat itu Richard mencoba berbicara padanya. Akhirnya Richard mengajaknya
bergabung. Awalnya dia sangat menyebalkan. Tapi, setelah beberapa kejadian aku
mulai memahami dia seperti apa. Dan perbedaan kami terlalu mencolok.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar