Jumat, 05 Februari 2016

Aedon The Alby Aileen



Kringgg!! Kringggg!!! Bunyi telepon genggam memecah suasana sepi. Waktu menunjukkan pukul 19.00. Suasana perpustakaan sudah tak seramai siang hari. Jam kerjaku berakhir pukul 20.00. Hari ini benar-benar melelahkan. Perpustakaan  semakin ramai saja oleh para remaja. Yah, perpustakaan  ini walaupun tidak luas, namun memuat buku-buku yang sangat lengkap. Jadi wajar saja jika ada begitu banyak pengunjungnya. Selain itu perpustakaan ini juga berada di lokasi yang strategis.  Lokasinya yang di tengah kota dan dikelilingi taman yang luas dan indah membuat perpustakaan ini begitu diminati. Kebanyakan yang berkunjung adalah remaja, baik itu dari kalangan hawa maupun kalangan adam. Orang-orang mengenal perpustakaan ini dengan nama Happy Book Store. Di perpustakaan  ini aku bekerja paruh waktu sebagai pelayan yang melayani permintaan peminat. Aku seorang siswi SMA The Gold Thalent. Namaku Bassama Aedon Fayyola. Keseharianku banyak ku habiskan dengan bekerja paruh waktu. Ada banyak alasanku bekerja, tapi bukan alasan banyak orang. Bukan alasan keterbatasan ekonomi. Satu alasan yang paling utama aku bekerja yaitu kebosanan. Yah, aku bosan jika hanya berdiam diri di rumah setelah aktivitas sekolah.
***
            Jam kerjaku pun akhirnya telah usai. Malam ini suasana jalan begitu tenang tidak ada bunyi klakson yang memekakan telinga. Jalanan dikelilingi pohon-pohon rindang yang tampak tersenyum menyapaku. Walaupun demikian mungkin bagi kebanyakan orang akan terasa tenang dan damai.  Tapi bagiku, itu belum bisa kukatakan tenang. Karena aku masih bisa mendengar jeritan-jeritan orang-orang disekelilingku. Fikiran-fikiran orang-orang yang kulalui dijalanan sangat menggangguku. Dan kucoba untuk mengabaikannya dengan mendengarkan beberapa lagu di mp3. Karena kesibukkanku dengan mp3 membuatku tidak menyadari ada seseorang yang memanggilku.
            “Aedon…” Sebuah suara yang kurang jelas mengarah ke telingaku. Sejenak aku berfikir, apa yang disebutkan itu adalah aku? Tapi tidak ada yang memanggilku Aedon, orang lebih mengenalku dengan panggilan Fay. Ah, mungkin itu nama orang lain.
            “Aedon. Tentu saja kau Aedon. Bassama Aedon Fayyola, putriku Aedon.” Suara itu kembali terdengar. Kali ini suara itu terdengar sangat jelas. Benar, suara itu menyebutkan namaku. Tapi, darimana asal suara itu? Fikirku.
            “Hahaha. Darimana? Tentu saja suara itu berasal dariku putriku. Ayahmu yang memanggilmu.” Kali ini suara itu membuatku takut. Bagaimana tidak? Yang ku ketahui ayahku sudah tiada. Dan bagaimana mungkin ia masih bisa berkomunikasi denganku.  Ku coba lihat sekelilingku, mencari-cari asal suara. Tak berapa lama kemudian suara itu kembali terdengar.
            “Kau takkan bisa melihat keberadaanku putriku. Jarak kita terlalu jauh, tapi kau tetap bisa mendengarku. Kerena pikiran kita terhubung satu sama lain.” suaranya terdengar sangat ramah.
            “Lalu, siapakah anda? Apa yang anda maksud dengan Ayahku?” aku berkata didalam pikiranku.
            “Aku adalah ayahmu. Aku tahu semua tentangmu. Hanya saja kau mungkin tidak tahu apa-apa tentangku.” Orang tersebut menjawab. Awalnya aku curiga. Ku kira itu hanya halusinasiku. Tapi setelah mendengar ia dapat menjawab apa yang ada dipikiranku, akupun mengerti itu bukan halusinasiku. Sejenak kutarik nafasku. Aku tidak gila! Sekali lagi aku mencoba untuk meluruskan pikiranku. Yah, mungkin jika aku memberitahu hal ini pada mama aku pasti di suruh meminum kembali obatku. Itu juga alasan mengapa aku memilih untuk bekerja dibanding berdiam diri di rumah. Jika aku di rumah mama pasti akan menyuguhkanku dengan obat-obatan yang sangat tidak kusukai. Kali ini aku membuktikan bahwa bukan hanya aku saja yang di bilang aneh tapi masih ada orang lain yang lebih aneh dariku. Orang itu tak lain suara yang baru saja kudengar. Tapi aku masih begitu penasaran, sebenarnya suara siapakah itu? Apa benar ayahku?
            “Ehmm, baik Aedon, ayah tidak bisa berlama-lama lagi berbicara denganmu. Masih banyak yang harus ayah lakukan. Jangan khawatir, cepat lambat kita akan berjumpa dan ayah juga sudah mengirim seseorang untuk menjagamu.” Katanya padaku. Masih banyak yang harus dilakukan? Apa maksudnya? Mengirim seseorang? Untuk menjagaku? Setelah itu, suara itu lenyap seketika. Tapi, beberapa saat kemudian aku dikejutkan dengan kedatangan seseorang yang entah darimana dan sejak kapan dia tepat ada di belakangku. Seorang pria tampan, dengan kulitnya yang putih bersih, matanya yang bulat, hidungnya yang begitu menawan, memakai pakaian yang sangat berbeda dan belum pernah ku lihat sebelumnya. Dengan senyuman yang mengembang ia membungkukkan badan dan menyapaku.
            “Selamat malam tuan putri.” Sapanya dengan senyuman yang merekah dari wajah tampannya. Aku tidak tau apa yang harus kulakukan. Dia benar-benar tampan. Tapi, apa maksudnya dengan ‘Tuan Putri’? apa baru saja aku mendengar seseorang memanggilku Tuan Putri? Siapa dia?
            “Ehhh. Iya, selamat malam.” Hanya kalimat itu yang sanggupku lontarkan. Pikirku, apakah dia malaikat? Kenapa wajahnya begitu cerah dan tampan? Pakaiannya pun sangat berbeda dengan era sekarang. Sangat… rapi.
            “Maaf tuan putri, sebelumnya izinkan saya memperkenalkan diri. Nama saya Alvaro Gavriel. Saya diutus raja untuk menjaga tuan putri.” Ia memperkenalkan dirinya. Alvaro Gavriel? Nama yang keren. Eh, apa? Menjaga?
            “Ehhhh. Maaf apa maksudmu menjaga? Raja? Hey raja yang mana? Raja Charles kah? Tolong jelaskan semuanya secara detail padaku!” perintahku dengan bergaya layaknya memerintah pelayan seperti dalam drama. Kemudian dia bangkit dari posisi membungkuk.
            “Bukankah tuan putri sudah mendengar yang dikatakan raja?” bukan menjawabku, tapi sebaliknya ia bertanya. Dikatakan raja? Hmmm, apa mungkin yang ia maksudkan adalah suara yang mengaku sebagai ayahku? Entahlah.
            “Oh. Jadi itu benar-benar nyata yah. Aku kira itu benar-benar hanya halusinasiku saja. Bodoh sekali aku ini.” Kata ku memasang raut wajah datar.
            “Tidak. Tuan putri tidak bodoh. Tuan putri hanya mewarisi apa yang memang seharusnya tuan putri warisi. Itu bukanlah penyakit seperti yang manusia kira. Itu adalah kelebihan tuan putri. “ ia mencoba menjelaskan padaku.
            “Katakan pa yang kau inginkan dariku.” Aku mencoba untuk mengetahui sebenarnya apa tujuannya.
            “Tuan putri masih salah paham. Saya disini diutus oleh raja untuk menjaga tuan putri, selain itu tidak ada tujuan lain.” aku hanya menghela nafas. Aku rasa ia tidak berbohong.
            “Benarkah? Baik, hantarkan aku pada raja yang mengutusmu.” Mungkin ini jalan untukku mengetahui kebenaran tentang ayahku. Dari raut wajahnya, ia tidak bisa memenuhi permintaanku.
            “Tentu saja itu kebenaran. Mohon maaf tuan putri, terlalu berbahaya jika tuan putri ingin menemui raja saat ini.” Ekspresinya tampak khawatir dan cemas. Membuat curiga saja.
            “Kenapa? Apa bahaya yang harus kuhadapi? Aku tidak takut pada apapun. Lagipula kenapa seorang penggelana harus takut.” Berharap ia merubah keputusannya, tapi malah sebaliknya.
            “Saya juga tahu hal itu. Tapi ini bukan sesuatu yang bisa tuan putrid hadapi.” Balasnya. Ah, membuat kesal saja. Aku hendak membalas apa yang dikatakannya, tapi tiba-tiba aku merasakan sesuatu mendekat.
            “Apa ini? Apa mereka lagi. Tidak salah lagi, energy ini adalah mereka.” Tebakku. Aku tidak terlalu terkejut dengan yang kurasakan, yang mendekat bukan musuh. Tapi lain halnya dengan orang aneh didekatku. Raut wajahnya begitu cemas.
            “Apa ini? Darah campuran? Apa memang benar adanya darah campuran?” seolah-olah bertanya padaku.
            “Hahahaha. Ternyata kau juga sepertiku yah. Kau juga merasakan energy mereka. Tenanglah mereka bukan musuh. Mereka penggelana sepertiku.”
            “Tuan putri, bagaimana tuan putrid tahu kalau mereka bukan musuh. Di planet ini ada begitu banyak musuh yang energinya sama.” ia bertanya seakan-akan tak percaya.
            “Bagaimana aku bisa tahu? Tentu saja aku tahu mana energy musuh dan mana energy temanku. Dan mereka adalah teman-temanku. Aku tahu seperti apa energy mereka, karena aku selalu bersama mereka.” Jelasku.
            Tentu saja aku mengetahui semuanya. Yah mereka adalah teman-temanku. Lalu aku memberikan sinyal keberadaanku. Kurasa mereka sedang gelisah dan mencariku.
            (melompat) “Ternyata kau disini rupanya.” Clara mendarat dengan sempurna.
            “Fay kemana saja kau. Kenapa begitu sulit untuk menemukanmu. Membuat repot saja.” Gary menyusul.
            “Kalian saja yang bodoh. Tadi sebelum aku pergi sudah kuberi tahu kalau aku pergi ke jalur II. Aku menyelesaikan pekerjaanku di tempat biasa. Lagipula kenapa kalian mencariku semua? Siapa yang menjaga markas?” mereka datang mencariku semua. Dan itu hal yang aneh menurutku. Biasanya yang akan mencariku hanya Richard saja.
            Richard Vello, pemimpin golongan kami. Golongan penggelana. Markas yang kukatakan tak lain adalah tempat tinggal golongan penggelana. Itu letaknya jauh dari jangkauan manusia. Lebih tepatnya itu berada di bawah tanah. Kami tinggal disana. Dengan jumlah yang cukup banyak, kami bisa hidup sebagai satu rumpunan keluarga. Richard menyebut kami sebagai Level Penggelana atau golongan orang-orang penggelana.
            Akhir-akhir ini markas serasa tidak aman lagi, makanya aku menyuruh mereka untuk menjaga markas saja dan tidak berkeliaran. Sebenarnya kami terbentuk masih sangat baru. Sekitar 5 bulan yang lalu aku bertemu Richard. Waktu itu dia datang ke rumahku menemui mama. Awalnya aku sangat membencinya. Aku mengira dia itu kekasih mama. Aku juga membenci mama yang melupakan ayah, walaupun dia memang sudah meninggal. Tapi walaupun  begitu, bagiku Richard sudah seperti seorang Ayah. Ia satu-satunya orang yang menjaga kami. Entah asalnya darimana aku juga kurang mengetahuinya. Mama pernah bilang kalau Richard adalah pamanku. Sayangnya aku tidak percaya, karena waktu itu aku masih membencinya. Baru ketika ia melihat keanehan yang kumiliki dan memahami keanehan itu, aku mulai menghilangkan kebencianku padanya. Ia menunjukkan padaku bahwa ia juga sama sepertiku, sama anehnya.
            “Sudahlah. Sekarang cepat kembali. Richard sangat murka mendengarmu masih saja bekerja di tempat itu.” Clara memotong lamunanku.
Clara Indica Musticka, gadis cantik dengan kulit putih seputih seorang Albino. Orang kedua yang direkrut dalam kelompok setelahku. Aku dan Richard menemukannya ketika sedang pergi ke toko roti seberang jalan rumah. Ia kedapatan sedang mencuri roti. Waktu itu ia dengan cepat dapat menghilang dari kejaran penjaga toko. Lebih tepatnya kusebut dengan ber-Teleport. Richard menyadari keanehan itu dan mencari kebaradaan si Teleport. Kami menemukannya di sudut bangunan yang dikelilingi sampah yang berserakan. Terlihat sedang memakan roti yang baru saja berhasil ia curi. Richard dan Aku menghampirinya. Dia bangkit dari tempat duduknya. Matanya tampak aneh. Matanya memiliki warna biru pekat. Aku hanya bisa memandang saja ke arahnya. Saat itu Richard mencoba berbicara padanya. Akhirnya Richard mengajaknya bergabung. Awalnya dia sangat menyebalkan. Tapi, setelah beberapa kejadian aku mulai memahami dia seperti apa. Dan perbedaan kami terlalu mencolok.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

FRANCIS FUKUYAMA END OF THE HISTORY THE LAST MAN

@yourrenola.blogspot.com/ “Francis Fukuyama, End of The History the Last Man lordship and Bondage - National Interest" Created ...